Kamis, 10 November 2011

Kehamilan dan Melahirkan di Usia 42 tahun

Hamil


Pada saat  test peg menyatakan, aku positif hamil di usia aku yang ke 41 tahun, tepatnya di bulan Pebruari 2011, ada yang bertanya, kebobolan kah atau sudah di rencanakan sebelumnya? Jawabannya tidak dua-duanya, aku hanya ingin punya anak lagi.

Anakku sudah dua dan laki-laki semua, tapi tidak berarti aku ingin tambah anak perempuan. Aku cuma ingin anakku lebih dari dua....hehehe, pasti pada heran, di tengah gencarnya gerakan keluarga berencana dengan program dua anak cukup, aku tidak peduli. Dalam bayanganku, anak banyak lebih ramai dan lebih bahagia, terutama setelah mereka dewasa nanti. Seperti yang di alami mertua ku yang memiliki 8 anak. Pada saat mereka pulang kampung di Hari Raya Idul Fitri sangat terasa keramaian dan kegembiraan keluarga besar itu.

Banyak teman-teman yang terkejut dengan keberanianku hamil lagi di usia senja. Bahkan dokter umum di sebuah klinik secara spontan mengatakan, " Wah ibu berani ya, usia ibu sudah termasuk usia rawan untuk kehamilan."

Pernyataannya justru membuat aku terkejut, seorang dokter kenapa berkata seperti itu? Aku ingat, ibuku dulu 30 tahun yang lalu, di usia 40 th melahirkan adikku, dengan jarak 11 tahun umurnya dengan aku. Beliau melahirkan normal dan tidak kekurangan sesuatu apapun. Bahkan dalam kisah Nabi Ibrahim AS, istrinya Siti Sarah melahirkan pada usia 90 tahun, tidak bermasalah. Mengapa seorang dokter dengan teknologi canggih seperti sekarang ini, masih meragukan dan menganggap usia menjadi problem dan masalah dalam kehamilan seorang wanita?

Bulan demi bulan kehamilan aku lalui, sampai dengan usia kehamilan 20 minggu, tidak banyak masalah yang aku alami. Paling banyak adalah kelelahan di jalan, karena jarak kantor dengan rumah yang sangat jauh yaitu dari Tebet - Ciledug yang umumnya di tempuh dalam kurun waktu 1 - 1,5 jam. Tapi sejak jalan casablanca di buat jalur fly over non toll, jarak tempuh itu menjadi lebih besar, kemacetan yang di timbulkan karena pembangunan jalan itu, bisa membuat waktu tempuh menjadi 2 - 2,5 jam sekali berangkat, atau 4 - 5 jam pulang pergi. Bayangkan bagaimana lelahnya duduk di dalam mobil selama itu dengan perut yang semakin membesar.


Pada kehamilan 26 minggu ternyata badanku tidak mampu menahan beban kelelahan itu, disamping aku  juga nekat melakukan puasa di bulan Ramadhan. Maka aku mengalami kontraksi dini, sehingga aku harus di rawat dan bed rest di rumah sakit selama, 1 minggu. Selama bed rest aku diberi cairan anti kontraksi, juga di larang untuk melakukan puasa. Apa boleh buat, pada dasarnya memang ibu hamil mendapat keringanan untuk boleh tidak berpuasa dengan membayar Fidyah. Kalau di kehamilan anak ke-2 aku mampu melaksanakan puasa Ramadhan secara penuh, ternyata kali ini aku hanya sanggup bertahan 1 minggu. Mungkin itu salah satu pengaruh usia ya? Baru aku bisa mengerti alasan mengapa hamil di atas usia 40 di anggap beresiko, karena ternyata  memang kondisi tubuh sudah mulai banyak yang menurun tidak sekuat sebelumnya. Tapi alhamdulilalh kondisi bayi tetap sehat dan detak jantungnya sangat kuat.

Paska kehamilan 28 minggu, ternyata tanda-tanda kelelahan mulai sering menimpa aku, dalam seminggu aku pasti tidak masuk kerja satu hari. Pada saat kelelahan, perut rasanya seperti di tarik dan sulit sekali untuk di buat rileks. Istirahat satu hari di rumah kadang baru cukup untuk mengurangi rasa sakit dan kesulitan untuk rileks. Paling sering yang aku alami adalah buang air besar dan kecil. Umumnya orang hamil mengalami sembelit, justru berbeda dengan aku, dalam sehari aku bisa mengalami bab lebih dari 3 kali, terutama di malam hari. Hal ini juga yg membuat timbangan bandanku sulit untuk bertambah. Aku kadang khawatir, bayiku kekurangan nutrisi, karena seringnya bab dan bak, tapi ternyata bayiku tumbuh dengan baik dan stabil.

Usia kehamilan 38 minggu aku memutuskan untuk cuti dari pekerjaan aku. Aku ingin konsetrasi ke kehamilanku dan persiapan menyambut kehadiran sang bayi. Tapi alasan lain adalah, aku sudah semakin tak sanggup menahan kelelehan setiap harinya, seiring dengan semakin membesarnya kandunganku. Dari pada hanya bisa kerja dua kali seminggu, lebih baik aku cuti, sehingga tidak mengganggu aktivitas rutin di kampus.

Melahirkan


Di usia kehamilan 39 minggu, aku sering sekali mengalami kontraksi palsu (braxton hicks). Setiap malam, bisa terjadi 5 kali kontraksi, tapi akan berhenti bila di beri segelas air putih ditambah madu atau berhenti di pagi hari sampai dengan sore.Menurut kedokteran, peristiwa itu cukup baik, karena mampu melunakkan rahim, sehingga persalinan bisa lebih cepat dan mudah.


Di usai kehamilan 40 minggu, tepat tanggal 3 Nov 2011 di hari ulang tahun perkawinanku yang ke 15, aku mengalami fleks atau pendarahan yang biasa disebut gejala kelahiran, segera aku berkunjung ke rumah sakit untuk cek bukaan kehamilan. Ternyata baru bukaan satu, sehingga aku boleh pulang dulu dan di anjurkan kembali sore hari. Prediksi aku akan melahirkan sore sampai malam hari. Hmmm...kami berharap dia bisa lahir hari ini, agar sama dengan hari ulang tahun perkawinan kami. Sore hari aku kembali kerumah sakit, tapi ternyata baru bukaan 2-3, sehingga di tunggu sampai malam. Sampai malam pembukaan ternyata tidak berjalan dengan lancar, dalam waktu 6 jam hanya terjadi pembukaan sebesar 1 cm. Dokter mulai memberi aba-aba untuk melakukan induksi, agar bisa lebih cepat. Umumnya anak ke 3 bisa lebih cepat terjadi pembukaan, begitu menurut dokter ku. 


Ini dia yang sangat menggangguku, aku trauma melahirkan dengan induksi sewaktu kelahiran anak ke 2 aku. Karena waktu itu usia kandungan sudah lebih dari 9 bulan 10 hari, aku harus melakukan proses induksi dari bukaan pertama. Sewaktu kelahiran anak pertama, aku mengalami sangat banyak kemudahan, sehingga ku pikir, kelahiran anak ke-2 dengan induksi bukan masalah besar. Tapi ternyata, selama 5 jam di induksi, aku mengalami sakit yang luar biasa, lebih sakit di bandingkan kontraksi normal. Sehingga sempat aku minta di buka infus induksinya dan menunggu kelahiran secara alami, saking aku sudah tidak tahan sakitnya. Tapi ternyata itu adalah penghujung dari rasa sakit bukaan ke 10, segera setelah aku minta induksi di hentikan,seketika itu juga aku di bawa ke kamar bersalin, dan dalam waktu tidak sampai 10 menit anak ke-2 ku lahir. Sejak itu aku kapok tidak mau di induksi lagi.


Kembali ke peristiwa yang baru lalu. Jam 11 malam dokter meminta bidan untuk melakukan induksi, karena bukaanku baru 4cm setelah lebih dari 12 jam. Aku menolak keras dan meminta menunggu sampai besok pagi. Dokterpun setuju, bila besok jam 6 pagi belum bertambah lebih dari 6cm, dia minta segera induksi. Semalaman aku tidak tidur, aku berjalan bolak balik di dalam kamar perawatanku, sambil berharap kontraksi semakin kuat, dan bukaan semakin besar. Memang kontraksi semakin kuat, dan darah serta lendir dari jalan lahir juga lebih banyak keluar. Tapi pada saat pemeriksaan jam 5 pagi, ternyata pembukaan baru bertambah 1 cm lagi. Aku mencoba meminta alternatif lain, selain induksi apakah adalagi yang bisa di lakukan untuk mempercepat kontraksi?


Pada jam 8 pagi, dokter memberikan alternatif untuk memecah ketuban lebih awal, agar kontraksi terjadi lebih cepat. Aku setuju, karena menghindari induksi. Tapi, entah apa yang terjadi dengan bayiku, setelah ketuban di pecahkan, dia tidak juga kontraksi, malah lebih pelan dari sebelumnya. Akhirnya permintaan dokter kebidananku sudah tidak bisa di tawar lagi, aku harus di induksi pada pukul 9.30 wib. 


Sulit buat aku untuk segera memutuskan, aku minta untuk di beri waktu berfikir dan menyiapkan mental dari trauma yang pernah ku alami. Dokter mengatakan, bila sampai jam 12.00 siang aku belum juga melahirkan, secsio adalah upaya terakhir. Aku hampir saja memutuskan untuk sectio, tapi dokter bertahan dan menurutnya aku masih mampu untuk melahirkan normal, " Ibu sudah anak ke- 3, percaya sama saya seperti ceplok telur, paling gak sampai 2 jam sudah lahir, kurang dari 1 jam lah. Paling di induksi tidak sampai 20 tetes!" begitu katanya meyakinkan aku.


Aku minta untuk berduaan dengan suamiku. Disitu perannya cukup besar dalam mensupport aku, untuk mau di induksi, "Ma, jangan dipikir induksinya, pikirkan gimana caranya dedeknya segera keluar, kasian kan kalo kelamaan. Di coba dulu induksi, nanti kalo mama gak tahan ya baru sesar!"


Aku jadi tersadar, selama ini aku kok cuma mikir diri sendiri, gak mikir bayiku. Betul juga suamiku yang penting anaku segera keluar, tidak perlu di tunda-tunda lagi. Akhirnya dengan merubah pola fikir tidak lagi ke diriku sendiri, aku setuju di induksi, ya....ini demi anakku. Suamiku setuju menemaniku di ruang bersalin, dan bersedia menemaniku dalam proses induksi.


Yah seperti bisa di duga, awalnya memang tidak terlalu sakit, tapi semakin lama semakin bertambah hebat, aku menahannya dengan cara berdiri, berjalan dan tiduran. Setiap kontraksi terjadi, suamiku aku jadikan sasaran cubitanku, hehehe,......seluruh badan biru-biru mungkin, soalnya semakin kuat kontraksinya, semakin kuat juga cubitanku (hihihihi....kenapa sekarang jadi geli sendiri ya?)


Kebetulan sekali, ibuku datang pas aku sedang mengalami kontraksi hebat, beliau memberikan air putih yang berisi doa restunya, agar jalan lahirku cepat terbuka. Pada jam 10.00 aku sudah tidak sanggup lagi menahan kontraksi, seluruh saluran pembuangan di bawah sepertinya mengeluarkan segala yg bisa di keluarkan. Kembali seperti 10 tahun yang lalu, aku sudah berteriak tidak tahan lagi dan meminta menghentikan induksinya. 


Suamiku berinisiatif memanggil dokter, dia tau aku bukan orang yang cengeng dan mudah merasakan sakit, kalau aku sudah menyerah, berarti dokter harus segera melihat, tindakan apa yang harus di ambil. Dokter memintaku bertahan, untuk memeriksa perkembangan proses kelahiran bayiku. Akhirnya dia bilang ternyata semua sudah terbuka sempurna dan aku harus siap untuk mengejan.


Alangkah lega aku karena perjuanganku sudah mendekati ujung, tapi masalahnya aku lupa bagaimana caranya mengejan, maklum saking sakitnya proses teraakhir tadi, aku cuman bisa berteriak kesakitan. Dokter dengan sabar mengajariku proses mengejan, sebelum mulai mengejan yg sesungguhnya kami mencoba berlatih dulu beberapa kali. Akhirnya tidak sampai 15 menit, tepat jam 10.15wib, bayiku terdengar menangis dia telah lahir dengan selamat.... Tapi ada sedikit masalah lagi ternyata anakku terlilit usus, walaupun hanya satu lilitan. Rupanya itulah yang membuat dia sulit untuk lahir dengan mudah.


Ajaibnya, semua rasa sakit hilang lenyap, berganti rasa syukur dan bahagia melihat kelahirannya. 


Baru pertama kali itu juga, suamiku menyaksikan anaknya muncul dari dalam rahim. Tak mampu di katakan rasa syukur dan bahagai ini, dia hanya menangis dalam sujud syukurnya kepada Allah, karena telah melihat perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya dan melihat sang anak berjuang keluar dari dalam rahim ibunya dan semuanya benar-benar luar biasa.


Satu catatan yang penting juga, pada saat menahan sakit yang luar biasa, mengucap Alhamdulillah ternyata lebih meredakan di bandingkan Astagfirullah. Aku mengucap Alhamdullilah setiap merasakan sakit kontraksi karena dengan sakit ini aku bersyukur, insyaallah bayiku akan semakin dekat pada kelahirannya. Allah juga sangat luar biasa dalam memberikan obat bagi rasa sakit  akibat kontraksi, kelahiran dan tangis bayi secara ajaib menyembuhkan semua rasa sakit yang tak terhingga, menjadi benar-benar hilang lenyap. Bahkan infus induksi yang masih menempel di pergelangan tanganku, sudah tidak berarti apapun setelah kelahiran. Tak ada lagi ada rasa mulas yg di akibatkan tetesan induksinya. Allahu Akbar.


Anakku Rafaeyza Dantricozy, lahir dengan BB 3100gr, panjang 52 cm tanggal 4 November 2011, jam 10,15 wib, dengan bantuan dr Yanto di Rs Tebet. Aku melahirkan umur 42 th lebih 5 bln. Terimakasih dokter atas support yg dikau berikan kepada kami.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar